Lagi-Lagi Bangkrut Laquilla Calcio, Mulai Lagi Dari Amatir

0 Share Facebook 0 Share Twitter 0 Share Pinterest Setelah gempa besar pada 2008 yang membuat klub ini jatuh ke liga amatir, kini L’Aquila 1927 menjadi subjek berita di Tuttosport, media olahraga Turin yang dipimpin oleh Xavier Iacobelli, dengan oplah terbesar di Italia, nama mereka menggema di kios-kios berita hari ini. Artikel tersebut menampilkan komentar […]

Rossoblu Julukan dan Warna Kebesaran Dari AS L’Aquila 1927

0 Share Facebook 0 Share Twitter 0 Share Pinterest Rossoblu Julukan dan Warna Kebesaran Dari AS L’Aquila 1927 – L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927 memiliki ciri warna merah dan biru pekat, yang digambarkan pada bendera serta jersey mereka. Warna merah dan biru pekat sejatinya warna yang langka. Lebih langka lagi jika bandingannya di kancah sepak […]

Karena Gempa Tim Bola Laquilla Calcio Memulai Petualangan Dari Liga Amatir

0 Share Facebook 0 Share Twitter 0 Share Pinterest karena Gempa Tim Bola Laquilla Calcio Memulai Petualangan Dari Liga Amatir – Sebelas tahun telah berlalu sejak 6 April 2009, ketika kota L’Aquila di wilayah Abruzzo semuanya seolah berhenti. Sepuluh tahun yang lalu gempa bumi mengguncang wilayah Abbruzo, banyak tubuh tanpa nyawa bergelimpangan, banyak jiwa yang […]

Fillosofi Dan Makna Lambang Dari SS L’Aquilla

Fillosofi Dan Makna Lambang Dari SS L’Aquilla – Logo dan lambang klub dari L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927 secara tradisi diidentifikasi dengan crest atau simbol ‘elang Romawi, yang konsisten dengan lambang serta dengan jelas merujuk pada lambang dan nama kota Aquilla. Namun, sampai pertengahan tahun delapan puluhan perlu dikabarkan bahwa lambangnya cukup sederhana, hanya menggambarkan bola merah – biru, dengan latar belakang dua pita diagonal dengan warna korporat juga berwarna merah biru.

Dengan berlalunya musim demi musim, dengan pergantian manajemen perusahaan dari waktu ke waktu entah karena berulang kali mengalami kebangkrutan dan dibangkitan dari kuburnya maka lambang pun berubah-rubah, mengikuti kecenderungan dari perusahaan. Bahkan gambar fitur elang telah di rekayasa ulang secara berbeda-beda, di mana dalam beberapa periode (terutama di tahun-tahun kepailitan dan pergantian total kepengurusan pada tahun 1994 dan 2004) fitur logo elang diubah hampir setiap tahun.

Mengapa terlalu banyak perubahan yang membuat para fans dari pemain taruhan bola yang suka memasang taruhan pada situs agen judi online tidak dapat mengidentifikasi lambang mereka. Disinilah masalahnya, semua lambang unik telah terpakai. Logo elang Romawi dengan warna biru muda yang juga bagian warna dari L’Aquilla telah dimiliki SS Lazio, jauh sebelum berdirinya La’Aquilla. Sementara warna biru muda dan merah sendiri sedikit meniru kota Catania dan Bologna.

Simbol-simbol yang dimiliki para klub besar juga menunjukkan senioritas serta keakraban pada fansnya jauh lebih lama. Tidak jarang pula fans L’aquilla mendua, mendukung tim papan atas di Serie A, namun juga sekaligus mendukung tim kota lokal, sehingga lambang tidak begitu dimasalahkan oleh mereka. Padahal pernah fans AS Roma mogok datang ke stadion saat lambang Serigala di emblem mereka berubah sedikit aneh, terkesan lucu. Tapi kasus itu tidak akan ditemukan di antara fans LAquilla. Perubahan demi perubahan dalam logo klub adalah hal yang mesti mereka adaptasi.

Sebagaimana yang telah dijelaskan, logo klub berubah-ubah. Yang pertama dalam urutan kronologis, yang digunakan dari 1991 hingga 1994, menyajikan gambar burung elang bergaya mengejar bola, dengan sayap terkembang. Yang kedua, digunakan oleh 1999 hingga 2003, dibuat dengan tambahan perisai gaya Swiss, dengan basis merah dan biru, bertuliskan tampilan elang yang terbang menukik lalu ada profil Gran Sasso.

Pernah juga logo ‘elang emas yang tampak menyamping tetapi’ elang Botak sudah menjadi simbol Amerika Serikat. Akhirnya dipakai elang yang mencirikan elang abad pertengahan, seringkali tampak dalam Crest kerajaan ala Italia kuno atau negara-negara Balkan. Pada 2007, Presiden Elio Gizzi memperbarui simbol yang digunakan. Logo itu digunakan sampai klub dinyatakan bangkrut dan gagal mendaftar Seri D pada musim panas 2018, karena kekurangan uang. Logonya, lingkaran biru, merah dan putih yang dipotong empat, yang diwakili elang biru dengan kepala putih, Lambang ini direferensikan mengacu pada sejarah kota dalam sorotan warna putih-merah dan dibagi menjadi empat bagian, masing-masing, untuk menghormati warna sipil kuno dan empat lingkungan kota Aquilla.

Pada musim panas 2018, perusahaan yang baru berdiri lalu mengadopsi logo baru yang dirancang oleh kelompok ultras Eagles Rossoblu dan disumbangkan ke perusahaan induk LAquilla “The Eagle Mé Supporters Trust”. Logo komunitas ultras itu diberikan cuma-cuma kepada klub. Walau klub menyebutnya sebagai pinjaman untuk digunakan secara gratis agar bisa membawa hoki dari kegagalan demi kegagalan di masa lalu, dan merubah nasib di masa depan.

Lagi-Lagi Bangkrut Laquilla Calcio, Mulai Lagi Dari Amatir

Laquilla Calcio

Setelah gempa besar pada 2008 yang membuat klub ini jatuh ke liga amatir, kini L’Aquila 1927 menjadi subjek berita di Tuttosport, media olahraga Turin yang dipimpin oleh Xavier Iacobelli, dengan oplah terbesar di Italia, nama mereka menggema di kios-kios berita hari ini. Artikel tersebut menampilkan komentar direktur L’Aquilla Il Capoluogo Roberta Galeotti. Isinya adalah pembubaran klub, untuk kemudian di rubah dalam konsorsium baru. Kembali lagi ke nol. Seluruh halaman dari halaman 39 Tuttosport, didedikasikan untuk mencari tahu kisah suka duka pasukan Red Blue Eagles: di mana Roberta Galeotti mendesak para fans, agar membantu klub dengan cara sumbangan “sekarang kami membutuhkan 50 ribu euro “. ujarnya. Uang itu akan digunakan kembali untuk membangun L’Aquilla.

Seratus orang di antara ultras dan penggemar dengan gambar L’Aquila, atau dengan tato di tangan mereka yang mencirikan klub asal Abruzzo itu terlihat dalam foto bertemu dengan pewakilan manajemen. Seratus ultras itu menjamin keberadaan klub dengan uang sumbangan mereka, artinya mereka akan menjadi pemilik klub sepakbola itu, walau mereka belum pasti akan mengelola L’Aquila Calcio 1927 langsung, karena mereka hanyalah fans yang saling menyumbang.

L’Aquila – nuovo stadio Acquasanta

Tim kota ini dalam sejarahnya hancur dua kali. Pertama oleh gempa bumi pada malam 6 April 2009, Kini terjadi lagi saat promosi ke Serie B untuk musim 2019-2020. Perusahaan inti yang memiliki saham di L’Aquila dinyatakan bangkrut pada Juli 2018, mereka meninggalkan ratusan ribu utang, termasuk gaji yang belum dibayarkan kepada para pemain, dan lebih dari satu setengah juta pajak yang belum dibayar ke pemerintah. Untuk membebaskan hutang mereka harus dipailitkan, serta para pengurus harus dipecat dan masuk daftar hitam di dunia sepak bola.

Pertandingan serie C 1, musim 2017 sendiri Dibanjiri dengan kisah skandal dan tudingan bahwa pertandingan L’Aquila Calcio telah dijual, ke bandar judi. Rumor merebak tapi klub menyangkal. Sayangnya, buruknya manajemen keuangan, membuat klub ini tersungkur dan harus mencoba memulai lagi dari dari awal. Jadi, dengan pengorbanan yang besar dan dedikasi yang luar biasa, para fans lalu mengambil alih manajemenn baru dengan cara ramai-ramai menyumbang, termasuk berupaya menutupi hutang 55 ribu euro, dan menyatukan klub kota ini di belakang panji baru dari Associazione Sportiva Dilettantistica Città di L’Aquila, menjadi L’Aquila Calcio.

Para fans ini berlangganan tiket gterusan, kini mereka juga berkorban untuk ‘mengembalikan L’AQUILA untuk terbang kembali, dalam hal ini dijelang kisah yang memilukan fans yang tidak ingin klub kesayangannya bubar untuk selamanya. Pemain L’Aquila, pun selama bertahun-tahun telah belajar untuk membayar dan mencintai pengorbanan para fans, walau terkadang ada keterbatasan dari sisi bakat, mereka mencoba melaluinya dengan semangat.

Para fans yang menyumbang dari berbagai profesi, dari pengrajin, akademisi, pedagang, dan pengusaha mereka bergabung dengan para fans lain mereka mencoba membawa likuiditas kembali ke klub yang disayangi. Orang-orang ini pun tampa pamrih, mereka tidak ingin diberitakan berlebihan, mereka bahkan kembali mengumpulkan 250 ribu euro, serta mengusahakan masuknya kontrak sponsor di situs judi online, di mana mereka juga bersedia membeli tiket terusan menonton tim sepak bolanya.
IlCapoluogo.it, situs online asal L’Aquila, mendukung tim ini, mereka mencoba terus mengabarkan bahwa klub ini tidak dimiliki pebisnis tapi para fans. Klub boleh dirusak, tetapi klub bukan manajemen, klub ada bendera.

Rossoblu Julukan dan Warna Kebesaran Dari AS L’Aquila 1927

Rossoblu Julukan dan Warna Kebesaran Dari AS L’Aquila 1927 – L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927 memiliki ciri warna merah dan biru pekat, yang digambarkan pada bendera serta jersey mereka. Warna merah dan biru pekat sejatinya warna yang langka. Lebih langka lagi jika bandingannya di kancah sepak bola domestik. Hanya ada tiga klub sepak bola di Italia yang gunakan warna itu, pertama Bologna FC, yang lebih mentereng, dan kedua FC Catania asal Sisilia, dan ketiga AS L’Aquilla.

Bologna satu kasus karena mereka salah satu kota besar dan pernah memenangkan Serie A, namun warna yang dipakai oleh AS L’Aquilla merupakan warna yang terkait erat oleh warna Bologna, dan digunakan sejak lahirnya, dengan kata lain belum berubah sejak berdirinya klub ini pada 1927. Warna ini memiliki sejarah unik, dan diyakini sebagai tanda penghormatan kepada Profesor Rusconi, seorang ilmuwan radiologis asal Bologna yang menjadi pendukung utama L’Aquilla.

Walau demikian, warna lain sempat dijadikan pilihan. Misalkan warna hitam, yang pada akhrnya hanya dipakai oleh penjaga gawang. Beberapa anggota pimpinan ingin mencoba warna hitam dan hijau, keduanya identik dengan kiper oleh karena itu ditolak. Warna hitam hijau sendiri kemudian diadopsi oleh tim rugby lokal,

Jersey pertama tim menggambarkan dua warna garis-garis merah dan biru membelah tengah seimbang, warna jersey ini dipakai sejak 1936. Tahun demi tahun berganti, jumlah strip ditambah, ukuran strip juga diubah beberapa kali dalam perjalanan waktu. Jersey tradisional yang paling lama dipakai adalah yang memakai 9 strip (biasanya 5 biru dan 4 merah) yang saling menyempit. Tetapi pada 2000-2001 ada perubahan mencolok di mana strip yang digunakan hanya tiga strip (2 warna merah, 1 warna biru di tengah, warna birunya yang jauh lebih terang dari standar sebelumnya). Celana pendek dan kaus kaki hampir selalu berwarna biru atau putih, jarang menggunakan yang merah.

Merah-biru, di luar rumor terkait Bologna seperti yang disebutkan di atas, telah muncul di ‘Aquila sebelum pembentukan’ AS Aquila sendiri: pada pertengahan dua puluhan berdiri klub amatir FC L’Aquila dengan warna jersey kemeja kotak-kotak merah-biru. Kainnya diperoleh dari kota Pescara, warna kebanggaan kota Pescara adalah biru langit.

Namun, warna kombinasi kotak meah biru itu membawa tawa para penonton di lapangan Collemaggio, sehingga manajemen klub amatir itu menggantinya dengan full biru, dengan celana pendek hitam. Kemudian berdiri pula SS Aquila yang mengadopsi warna putih dan biru seperti halnya FC Pescara. Dari sejarahnya ini malah muncul tanda tanya, Apakah yang di Aquilla selalu meniru dan bergantung klub yang lebih besar? Jawabannya tidak memuaskan, sehingga asal usul warna L’Aquilla kini dilupakan.

Seragam tandang L’Aquilla adalah warna putih dengan sedikit varian merah-biru yang terbatas pada garis trim di sisi atau pita yang melintang di tutupan jerse. Trim diatur secara vertikal, horizontal atau diagonal. Namun pernah pada akhir tahun sembilan puluhan, tim ini menggunakan jersey putih dengan lambang klub di tengahnya, dan beberapa kotak merah dan biru kotak-kotak kecil. Sementara warna celana pendek dan kaus kaki nya berwarna putih atau atau kombinasi dengan biru.

Namun, ada pengecualian untuk penggunaan warna kuning dalam satu kasus (pada tahun 2000-2001) mengingat jersey biru pekat itu terlalu meniru Bologna. Adapun pada tahun 2012-2013 dibuat jersey ketiga berwarna hitam-hijau yang kadang diledek mirip SS Sassuolo.

Karena Gempa Tim Bola Laquilla Calcio Memulai Petualangan Dari Liga Amatir

Karena Gempa Tim Bola Laquilla Calcio Memulai Petualangan Dari Liga Amatir

karena Gempa Tim Bola Laquilla Calcio Memulai Petualangan Dari Liga Amatir – Sebelas tahun telah berlalu sejak 6 April 2009, ketika kota L’Aquila di wilayah Abruzzo semuanya seolah berhenti. Sepuluh tahun yang lalu gempa bumi mengguncang wilayah Abbruzo, banyak tubuh tanpa nyawa bergelimpangan, banyak jiwa yang terkoyak dan terenggut, banyak di antara mereka menggali di antara puing-puing bersama-sama.
Yang menyatukan mereka adalah tim sepak bola L’Aquila yang merupakan simbol kota, agar bangkit dari peristiwa bencana silih berganti rutin, mendatangi daerah tersebut. Abruzzo memang regio yang selalu mendapat ancaman gempa, selalu dihantui masa lalu yang akan muncul lagi di masa depan, dan puing-puing adalah pemandangan biasa di regio Abruzzo. bagaimanapun warga L’Aquila tidak mau menyerah pada tragedi situasi, bata demi bata, harus dibangun kembali dan mereka berhasil pulih.

Gempa bumi telah menghancurkan kehidupan semua orang, bahkan kehidupan tim sepak bola kebanggan kota, yang sama saja berbagi nasib dengan kota nya antara promosi dan kegagalan atau degradasi.. Laquilla Calcio dalam beberapa tahun terakhir telah ikut menurun performanya hingga menghilang, karena beberapa pengisinya putera daerah yang ikut terdampak gempa. Lalu ceritanya juga tidak berakhir di situ. Klub meskipun tenggelam tetap menyimpan semangat tarung, dan ketekunan khas Abruzz, Aquila Calcio, terpaksa, harus pergi dari klasemen karena tidak memenuhi syarat finansial sebagai akibat gempa. Mereka harus mulai Dari awal. Atau lebih tepatnya sesuai peraturan, dari Kategori liga Pertama. Mereka mendirikan perusahaan baru dari perusahaan lam yang rata dengan tanah, yang tidak lagi berhubungan dengan manajemen sebelumnya, lahir kembali menjelang kompetisi musim panas 2018, tanpa gegap gempita atau hype media. Nama lengkapnya berubah menjadi Associazione Sportiva Dilettantistica Città di L’Aquila, warna banner kebanggaannya sama seperti biasanya: merah dan biru.

L’Aquila dimulai dari bawah, dari grup A Prima Kategoria dalam klasemen yang sangat berbeda dari apa yang biasa para fans di kota L’Aquilla saksikan pada tim mereka. Tapi itu tidak masalah. Tim Abruzzo ini tetap menghargai hukuman karena bangkrut, dan berkomitmen untuk menjalani hukuman itu tanpa banyak alasan. Seperti halnya Palermo, dan Fiorentina yang eprnah memulai dari kategori yang sama. Tim secara keseluruhan ingin berjuang agar bisa kembali setidaknya ke puncak pencapaian mereka Serie B. Melalui tekad dan kualitas pemain yang masih bersedia bermain pada tim, mereka siap memenangkan pertandingan. Pada akhirnya tim bisa bermain dengan sangat baik, kadang-kadang bermain berlebihan, dengan kemenangan yang sebagian besar sangat menonjol, terutama dalam klasemen Serie D yang terlalu mudah untuk mereka.

Pada era terbarunya di 2018-2019, mereka membuat rekor yang sudah diperkirakan: 163 gol dicetak dan hanya kebobolan 9 gol dalam 34 pertandingan. Setelah kemenangan 9-0 dalam derby melawan San Francesco, L’Aquila memenangkan kejuaraan Prima Kategoria dan melompat ke liga di atasnya. Lalu bermain Lega Pro Seconda Divisione, yang dulunya bernama Serie C1. Setiap tim yang degradasi masih menyisakan nama ternama., sementara di Aquilla ada nama bek sayap Damiano Zanon yang pernah bermain dengan Pescara, Frosinone, Benevento dan Perugia. Ada juga Nicola di Francia dan kapten Aquilla selama 3 tahun, atau Lorenzo Cattafesta, kiper nomor 1 dari L’Aquila baru. Semua yang ada di tim yang kehilangan segalanya dan mencapai titik terendah, kini sedang bersiap untuk kembali dengan kekuatan dan keyakinan lebih dari sebelumnya.

Pages:
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!