Makna Lambang Klub Sepak Bola Laquila Calcio

0 Share Facebook 0 Share Twitter 0 Share Pinterest Makna Lambang Klub Sepak Bola Laquila Calcio – Klub sepak bola Laquila Calcio memiliki lambang yang sering berganti – ganti. Sering bergantinya lambang klub sepak bola ini dikarenakan perusahaan klub sepak bola Laquila Calcio yang pernah berkali – kali mengalami kebangkrutan dan kebangkitan. Itulah yang membuat […]

Kisah Terbaru L’Aquila di Bawah Bendera L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927

0 Share Facebook 0 Share Twitter 0 Share Pinterest Kisah Terbaru L’Aquila di Bawah Bendera L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927 – L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927 atau Asosiasi Olahraga Amatir L’Aquila 1927, atau cukup hanya dikenal sebagai L’Aquila saja, adalah klub sepak bola asal Italia yang berbasis di kota L’Aquila, regional Abruzzo, klub ini didirikan […]

Fillosofi Dan Makna Lambang Dari SS L’Aquilla

Fillosofi Dan Makna Lambang Dari SS L’Aquilla – Logo dan lambang klub dari L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927 secara tradisi diidentifikasi dengan crest atau simbol ‘elang Romawi, yang konsisten dengan lambang serta dengan jelas merujuk pada lambang dan nama kota Aquilla. Namun, sampai pertengahan tahun delapan puluhan perlu dikabarkan bahwa lambangnya cukup sederhana, hanya menggambarkan bola merah – biru, dengan latar belakang dua pita diagonal dengan warna korporat juga berwarna merah biru.

Dengan berlalunya musim demi musim, dengan pergantian manajemen perusahaan dari waktu ke waktu entah karena berulang kali mengalami kebangkrutan dan dibangkitan dari kuburnya maka lambang pun berubah-rubah, mengikuti kecenderungan dari perusahaan. Bahkan gambar fitur elang telah di rekayasa ulang secara berbeda-beda, di mana dalam beberapa periode (terutama di tahun-tahun kepailitan dan pergantian total kepengurusan pada tahun 1994 dan 2004) fitur logo elang diubah hampir setiap tahun.

Mengapa terlalu banyak perubahan yang membuat para fans dari pemain taruhan bola yang suka memasang taruhan pada situs agen judi online tidak dapat mengidentifikasi lambang mereka. Disinilah masalahnya, semua lambang unik telah terpakai. Logo elang Romawi dengan warna biru muda yang juga bagian warna dari L’Aquilla telah dimiliki SS Lazio, jauh sebelum berdirinya La’Aquilla. Sementara warna biru muda dan merah sendiri sedikit meniru kota Catania dan Bologna.

Simbol-simbol yang dimiliki para klub besar juga menunjukkan senioritas serta keakraban pada fansnya jauh lebih lama. Tidak jarang pula fans L’aquilla mendua, mendukung tim papan atas di Serie A, namun juga sekaligus mendukung tim kota lokal, sehingga lambang tidak begitu dimasalahkan oleh mereka. Padahal pernah fans AS Roma mogok datang ke stadion saat lambang Serigala di emblem mereka berubah sedikit aneh, terkesan lucu. Tapi kasus itu tidak akan ditemukan di antara fans LAquilla. Perubahan demi perubahan dalam logo klub adalah hal yang mesti mereka adaptasi.

Sebagaimana yang telah dijelaskan, logo klub berubah-ubah. Yang pertama dalam urutan kronologis, yang digunakan dari 1991 hingga 1994, menyajikan gambar burung elang bergaya mengejar bola, dengan sayap terkembang. Yang kedua, digunakan oleh 1999 hingga 2003, dibuat dengan tambahan perisai gaya Swiss, dengan basis merah dan biru, bertuliskan tampilan elang yang terbang menukik lalu ada profil Gran Sasso.

Pernah juga logo ‘elang emas yang tampak menyamping tetapi’ elang Botak sudah menjadi simbol Amerika Serikat. Akhirnya dipakai elang yang mencirikan elang abad pertengahan, seringkali tampak dalam Crest kerajaan ala Italia kuno atau negara-negara Balkan. Pada 2007, Presiden Elio Gizzi memperbarui simbol yang digunakan. Logo itu digunakan sampai klub dinyatakan bangkrut dan gagal mendaftar Seri D pada musim panas 2018, karena kekurangan uang. Logonya, lingkaran biru, merah dan putih yang dipotong empat, yang diwakili elang biru dengan kepala putih, Lambang ini direferensikan mengacu pada sejarah kota dalam sorotan warna putih-merah dan dibagi menjadi empat bagian, masing-masing, untuk menghormati warna sipil kuno dan empat lingkungan kota Aquilla.

Pada musim panas 2018, perusahaan yang baru berdiri lalu mengadopsi logo baru yang dirancang oleh kelompok ultras Eagles Rossoblu dan disumbangkan ke perusahaan induk LAquilla “The Eagle Mé Supporters Trust”. Logo komunitas ultras itu diberikan cuma-cuma kepada klub. Walau klub menyebutnya sebagai pinjaman untuk digunakan secara gratis agar bisa membawa hoki dari kegagalan demi kegagalan di masa lalu, dan merubah nasib di masa depan.

Makna Lambang Klub Sepak Bola Laquila Calcio

Makna Lambang Klub Sepak Bola Laquila Calcio

Makna Lambang Klub Sepak Bola Laquila Calcio – Klub sepak bola Laquila Calcio memiliki lambang yang sering berganti – ganti. Sering bergantinya lambang klub sepak bola ini dikarenakan perusahaan klub sepak bola Laquila Calcio yang pernah berkali – kali mengalami kebangkrutan dan kebangkitan. Itulah yang membuat lambang dari klub sepak bola ini berubah – ubah. Sering berubanya logo dari klub ini membuat para penggemarnya sering mendua. Simbol yang unik sudah terpakai hingga simbol yang digunakan mirip dengan klub lainnya.

Logo klub sepak bola Laquila Calcio yang pertama kali di tahub 1991 hingga 1994 adalah berupa burung elang. Burung elang di dalam logo ini digambarkan sedang mengejar bola dengan posisi sayap yang dikembagkan. Logo ini hanya bertahan sekitar 3 tahun saja lalu mengalami perubahan. Setelah 3 tahun itu klub sepak bola ini mengalami kebangkrutan lalu bangkit lagi di tahun 1999.

Pada tahun 1999 hingga 2003 logo klub sepak bola ini berubah lagi. Kali ini logo yang ditampilkan ditambah dengan adanya prisai dengan gaya Swiss, ditambah dengan basis berwarna merah dan biru. Pada logo juga terdapat tulisan elang yang sedang terbang menukik yang ada profil Gran Sasso. Logo ini juga tidak bisa bertahan lebih lama karena perusahaan kembali mengalami kebangkrutan. Klub sepak bola ini bangkrut dan tidak bisa mendaftar di Seri D tahun 2018 karena kekurangan uang. Pada akhirnya pihak perusahaan situs judi bola yang mejadi sponsor club merubah logo yang dimiliki club tersebut.

Logo klub ini berubah lagi dengan tampilan yang lebih sederhana. Lingkaran biru, merah, dan putih dipotong empat bagian. Warna tersebut diwakliki oleh elang dengan warna biru dan berkepala putih. Lambang inilah yang pada akhirnya menjadi lambang Laquila Calcio sementara. Lambang tersebut juga memiliki makna yang cukup dalam dimana empat bagian warna yang dipotong tersebut masing – masing menjadi cara menghormati warga sipil kuno dan juga empat wilayah yang ada di Aquilla.

Pada tahun 2018 pada akhirnya klub sepak bola Laquila Calcio berdiri kembali dari kebangkrutan. Klub ini pada akhirnya mengadopsi logo baru yang dibuatkan oleh kelompok Ultras Eagles Ressoblu. Logo yang sudah dirancang oleh kelompok tersebut pada akhirnya disumbangkan kepada Laquila Calcio . Logo ini diberikan secara percuma – cuma untuk Laquila Calcio. Kelompok tersebut mengatakan bahwa logo tersebut dipinjamkan secara gratis agar klub sepak bola Laquila Calcio bisa kembali bangkit. Logo tersebut juga diberikan agar bisa membawa hoki dan meninggalkan kegagalan yang ada di masa lalu. Dengan memiliki logo yang baru diharapkan Laquila Calcio bisa merubah nasib menjadi lebih baik.

Klub sepak bola Laquila Calcio sudah berkali – kali bangkrut dan kembali berdiri lagi. Berdirinya Laquila Calcio selalu diwarnai dengan penggantian logo yang baru. Penggatian lambang atau logo tersebut tentu memiliki makna yang cukup dalam. Klub sepak bola ini ingin memiliki nasip yang lebih baik setiap kali bangkit dari keterpurukan. Merubah lambang menjadi salah satu cara untuk bisa kembali bangkit di dunia sepak bola.

Beberapa logo yang pernah digunakan oleh klub sepak bola ini terbilang sangat unik. Kebaikan kelompok Ultras Eagles Rossoblu dalam memberikan logo baru untuk Laquila Calcio disambut dengan sangat baik. Tentu tidak mudah bagi Laquila Calcio untuk membuat berkali – kali lambang klub sepak bola. Lambang pemberian kelompok tersebut diharapakan membangkitkan semangat Laquila Calcio.

Para Penggemar Menjadi Sosok Dibalik Bangkitnya Laquila Calcio

Para Penggemar Menjadi Sosok Dibalik Bangkitnya Laquila Calcio – Ketika mendengar klub sepak bola Laquila Calcio maka akan melihat betapa besar berjuangan pemainnya dan juga para fansnya. Klub sepak bola Laquila Calcio bisa seperti saat ini karena dukungan dari para penggemarnya yang sangat luar biasa. Tidak mudah bagi Laquila Calcio untuk berdiri sendiri tanpa memiliki para penggemar. Bahkan bisa dikatakan bahwa klub sepak bola ini tidak dapat berdiri jika para penggemarnya meninggalkan klub tersebut. Kenapa bisa para fans dikatakan sebagai sosok dibalik bangkitnya Laquila Calcio? Ada cerita yang sangat menyedihkan dibalik semua itu.

Klub sepak bola Laquila Calcio merupakan salah satu klub sepak bola yang memiliki perjalanan karir cukup lambat. Klub ini sering mengalami kebangkrutan yang pada akhirnya membuat klub ini harus berhenti sebentar di dunia sepak bola. Berulang kali mengalami kegagalan tidak lantas membuat para fans meninggalkannya. Walaupun ada beberapa fans yang berpaling dari klub ini namun masih ada fans setia yang ada saat suka dan dukanya klub sepak bola tersebut. Kebangkrutan paling parah yang dialami klub ini terjadi 2 kali dimana para fanslah yang turun untuk mengembalikan posisi Laquila Calcio lebih aman. Dua kali kebangkrutan ini membuat Laquila Calcio hampir mati dari dunia sepak bola.

Kebangkrutan pertama yang dialami Laquila Calcio terjadi di tahun 2009. Kebangkrutan ini cukup membuat perusahaan menjadi kualahan dan bahkan meminta bantuan kepada para fans klub tersebut. Sebesar 50 ribu euro menjadi nominal yang dibutuhkan perusahaan untuk bisa mengembalikan Laquila Calcio. Kelompok ultras sebagai kelompok fans Laquila Calcio memberikan sumbangan untuk mengatasi keterpurukan klub sepak bola ini. Bantuan yang diberikan kepada kelompok ultras ini menandakan bahwa klub sepak bola tersebut adalah miliknya walaupin belum ada kepasitan apakah Laquila Calcio akan dikelola oleh kelompok tersebut. Bantuan yang diberikan oleh penggemarnya ini tidak berhenti sampai disini. Kehancuran kedua kalinya terjadi lagi di tahun 2018.

Pada tahun 2018 ini klub sepak bola Laquila Calcio kembali diterpa badai yang besar. Perusahaan memiliki ratusan ribu hutang ke berbagai pihak. Perusahaan bahkan belum membayarkan pajak kepada pemerintah dan gaji para pemain juga belum terbayarkan. Besarnya hutang yang dimiliki perusahaan ini kemungkinan akan benar – benar membuat Laquila Calcio mati. Bahkan untuk menyelesaikan masalah yang sedang menjerat klub sepak bola ini harus masuk dalam daftar hitam di persebak bolaan dunia. Melihat kondisi tersebut para fans tidak bisa tinggal diam. Para penggemar ini menyumbangkan dana yang sangat besar untuk bisa mengembalikan Laquila Calcio. Sebesar 55 ribu euro disumbangkan oleh klub sepak bola para penggemarnya untuk Laquila Calcio.

Keberadaan penggemar disisi Laquila Calcio membuat keadaan klub sepak bola ini selalu diposisi yang aman. Mereka rela menyumbangkan dana yang tidak sedikit untuk menutup segala hutang yang dimiliki perusahaan. Para penggemar bahkan menemani klub sepak bola ini untuk kembali dari awal. Tidak mudah memang bagi Laquila Calcio untuk bisa kembali bangkit dari sekian kali terpuruk. Para pemain Laquila Calcio harus mulai belajar cara menghormati dan menyayangi para penggemarnya. Tanpa para fans Laquila Calcio tidak akan bisa melewati segala permasalahan keuangan ketika terpuruk. Para penggemar Laquila Calcio yang menjadi sosok paling berjasa dibalik kebangkitan klub sepak bola Laquila Calcio yang telah berulang kali mengalami kebangkurtan.

Rossoblu Menjadi Julukan dan Warna Kebesaran Laquila Calcio

Rossoblu Menjadi Julukan dan Warna Kebesaran Laquila Calcio – Klub sepak bola Laquila Calcio memiliki julukan dan warna kebesaran dengan nama Rossoblu. Ciri khas yang dimiliki klub sepak bola ini adalah merah dan biru yang pekat. Ciri khas tersebut bisa dilihat di bendera dan juga jersey yang dimiliki klub sepak bola tersebut. Warna tersebut dianggap sebagai warna yang langka, terutama jika dibandingkan dengan kancah sepak bola yang ada di domestik. Ada tiga klub sepak bola yang menggunakan warna – warna tersebut yakni ada Bologna FC, FC Cantania Sisilia, dan juga AS Laquila Calcio. Ketiga klub sepak bola tersebut sama – sama menggunakan warna merah dan biru dengan kepekatan yang berbeda. Warna yang diusung Laquila Calcio tersebut dianggap selalu menirukan klub sepak bola besar. Namun aslinya warna tersebut sudah dipakai oleh Laquila Calcio sejak kemunculannya di dunia sepak bola.

Model jersey yang digunakan klub sepak bola Laquila Calcio selalu berubah – ubah. Dari tahun ke tahun selalu ada tampilan jersey yang berbeda. Perubahan tampilan jersey ini bisa dilihat dari jumlah stripnya yang pernah ditambah dan juga dikurangi. Ukuran stip juga sering dirubah – rubah. Perubahan tampilan jersey ini mengikuti keadaan perusahaan saat ini. Klub sepak bola Laquila Calcio memang sering mengalami permasalahan hingga bangkrut. Merubah penampilan jersey atau merubah lambang adalah kegaiatan yang tidak asing bagi klub sepak bola Laquila Calcio. Walaupun sering menggalami beberapa kali pergantian, klub sepak bola ini tetap memiliki ciri khas yang tidak ditinggalkan.

Klub sepak bola ini pernah memiliki penampilan jersey yang digunakan cukup lama. Jersey tersebut menggunakan 9 strip dimana 5 strip berwarna biru dan yang 4 strip berwarna merah, inilah jersey terlama yang digunakan. Pada tahun 2000 hingga 2001 klub sepak bola ini merubah penampilan jerseynya dengan 2 warna merah dan 1 warna biru. Jersey kali ini juga dibuat dengan warna yang lebih terang dari standarnya. Untuk bagian celana dan kaus kaki tidak berubah. Bagian celana selalu pendek dan kaus kaki yang digunakan memiliki warna yang sama yakni biru san putih. Laquila Calcio jarang menggunakan kaus kaki berwarna merah.

Tampilan jersey merah biru milik Laquila Calcio yang mirip dengan Bologna tersebut sudah digunakan sebelum AS Aquila berdiri, namun sudah digunakan sejak bernama Laquila Calcio. Tampilan jersey klub sepak bola ini pada awalnya adalah kemeja kotak – kotak dengan warna merah dan biru. Namun tampilan jersey yang dimiliki klub tersebut mampu menghadirkan gelak tawa para penonton yang pada akhirnya manajemen klub tersebut sepakat untuk menggantinya. Pada akhirnya jersey tersebut diganti dengan full biru dengan celana berwarna hitam pendek.

Seragam tandang yang digunakan Laquila Calcio berwarna putih dengan adanya warna merah dan biru. Trim diantur secara vertikal dan juga horizontal. Laquila Calcio juga pernah menggunakan jersey warna putih dimana dibangian tengahnya terdapat lambang klub sepak bola tersebut. Kotak yang ditampilkan di dalam jersey tahun 90-an tersebut berwarna merah dan biru kotak kecil. Sedangkan untuk warna kasus kakinya berwarna putih polos ataupun menggunakan putih kombinasi biru. Celana yang digunakan tetap berupa celana pendek. Kini warna kebesaran dari klub sepak bola Laquila Calcio diberi julukan Rossoblu. Dalam setiap kali penampilannya klub ini selalu menggunakan warna kebesarannya tersebut.

Kisah Terbaru L’Aquila di Bawah Bendera L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927

Kisah Terbaru L’Aquila di Bawah Bendera L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927 – L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927 atau Asosiasi Olahraga Amatir L’Aquila 1927, atau cukup hanya dikenal sebagai L’Aquila saja, adalah klub sepak bola asal Italia yang berbasis di kota L’Aquila, regional Abruzzo, klub ini didirikan kembali setelah L’Aquila Calcio 1927 dipailitkan karena tidak memenuhi standar finansial liga pada 2018, mereka pun kembali lagi memulai dari nol, seperti halnya Fiorentina yang pernah bangkrut, atau kali ini Palermo yang kembali ke papan paling dasar dari klub professional.

Klub ini sendiri sejarahnya berawal dari tahun 1927, meskipun resminya didirikan pada tahun 1931 dan pada musim berikutnya mereka mendaftarkan diri ikut dalam kejuaraan pertamanya, untuk kemudian membawa nama kota, dengan nama Asosiasi Olahraga L’Aquila. Pada musim terbaru di 2019-2020 klub ini bermain di Seri C1, setelah promosi dari Serie D pada tahun lalu.

Pada 1934-1935 L’Aquila Calcio 1927 adalah tim Abruzzo pertama yang berpartisipasi di Serie B, suatu turnamen di mana mereka pada tahun tersebut berhasil naik jengkal demi jengkal ke 3 besar liga berturut-turut dari sejak 1930-an. Dimulai dari Seri D, Serie C1, Serie C2, lalu serie B pada 1934. Namun malang selalu membayangi, adanya kecelakaan kereta api yang menghancurkan sebagian besar skuad, mereka lalu terdegradasi ditahun berikutnya, kesebelasan Aquila yang kehilangan pemain andalan tidak lagi berhasil kembali ke seri B, mereka pun banyak menghabiskan waktu dari tahun-ke tahun di kejuaraan Serie C, atau mengikuti banyak kompetisi amatir lainnya.

Dalam waktu 30 tahun belakangan, klub ini menderita empat kali kebangkrutan, pada tahun 1994, 2004, 2008, dan 2018. Persepuluh tahun sekali seperti kutukan. Warna identitasnya merah dan biru, sedangkan lambangnya adalah elang simbol Romawi. Pertandingan kandang venue nya di adakan di stadion Gran Sasso d’Italia-Italo Acconcia dengan kapasitas kursi 6000 an.

Catatan penting pada tanggal 27 Juli 2018 klub ini secara resmi tidak mendaftar di Seri D karena alasan keuangan dan didirikan kembali pada musim panas dengan nama ‘Asosiasi Olahraga Amatir Kota L’Aquila yang harus memulia dari Prima Categoria, kategori kejuaraan amatir, artinya para pemainnya ini tidak dikontrak pro, melainkan bermain tarkam, atau take away pay.

Walau amatir mereka tampil impresif, mencetak banyak kemenangan termasuk banyak gol, juga termasuk rekor gol yang dicetak dalam pertandingan kompetitif, khususnya saat yang menang pada 1 Mei 2019 di ASD City di mana laga L’Aquila melawan Civitella Roveto-Atletico selesai dengan skor 12-0 untuk kemenangan L’Aquila, kemenangan ini disusul kemenangan 9-0 melawan St Francis, lalu menjadi tolakan tim untuk promosi di kejuaraan amatir regional Abruzzo.

Musim 2019/2020 dijelang, di mana para fans Rossoblu masih di belakang mereka dengan slogan ‘Trust The Aquilame’ yang merupakan chant atau nyanyian sorak sorai fans yang bersejarah karena menjadi chant dari era Red Blue Eagles pada tahun 1978, chant lama ini diharapkan memberikan efek kepada semua stockholder klub, sehingga mereka bisa melaju lebih jauh serta mencegah musim yang gagal.

Tapi itu bukan masalah, kepengurusan klub ini saat ini seluruhnya terdiri dari para fans dan diketuai oleh pengacara Stefano Marrelli dan disponsori oleh agen sbobet terpercaya. Bahkan chant itu pun merupakan isu perusahan yang disebarkan ke para fans. Mereka ingin klub ini menjadi milik fans, dari fans, oleh fans, dan untuk fans.

Mengenal Markas dan Stadion SS L’Aquilla 1927

Mengenal Markas dan Stadion SS L’Aquilla 1927 – Setiap klub punya stadion kebanggaan. Tapi di Italia, kebangaan itu diserahkan sepenuhna pada dewan kota. Artinya, stadion milik klub, adalah yang dimiliki kota. Karena kota yang memiliki klub dan bukan sebaliknya. Adapun dalam sejarahnya, pertandingan sepak bola pertama di Aquila dimainkan di Stadion St. Basil, di pusat bersejarah kota. Kemudian mereka pindah ke stadion di depan basilika Santa Maria di Collemaggio yang merupakan bangunan keagamaan ‘Aquila, tepat di luar tembok kota, di atas bukit.

Didirikan di sudut jalan Corrado IV dan Via del Beato Cesidio pada tahun 1288 atas kehendak Pietro da Morrone – di sini dimahkotai Paus dengan nama Celestine V pada tanggal 29 Agustus 1294 – Basilika ini dianggap sebagai karya pamungkas dari regio Abruzzo, serta menjadi simbol kota dan dinyatakan sebagai monumen nasional pada tahun 1902. Didepan basilika itulah, L’Aquilla sempat bermarkas.

Saat mereka pertama terdaftar di kejuaraan resmi pada 1930-1931, mereka memulai pertandingan dengan bangga karena bermain di depan simbol dari regio Abruzzo. Lambat laun stadion itu dikenal sebagai stadion Atletik atau nama lainnya Stadion Isaia Caesar sebagai tokoh atletik lokal. Stadion itu selain dipakai untuk sepak bola memang untuk mengembangkan bakat atletik, dan merupakan salah satu fasilitas olahraga Aquila yang didedikasikan untuk olahrawagan atletik.

Isaia Caesar pun menjadi salah satu sarana olahraga tertua di di Aquilla yang telah digunakan sejak awal abad kedua puluh; direnovasi pada tahun 2010. Renoavasinya menelan biaya sekitar 6 juta pound. Stadion ini lengkap dengan lapangan bermain bola, serta trek untuk atletik yang dirancang oleh arsitek Milan Paolo Vietti-Violi, sementara pekerjaan konstruksi diarahkan oleh arsitek Mario Gioia, kapasitas aslinya adalah 12.000 kursi, namun sementara direduksi menjadi setengahnya atau 6.000 kursi, karena tidak ada lagi pertandingan bola di adakan di sana.

Mengapa? Karena setelah perang dunia kedua, klub L’Aquilla telah pindah markas ke Stadion Tommaso Fattori yang merupakan fasilitas olahraga serbaguna di ‘Aquila. Didirikan pada tahun 1929 dan dibuka pada tahun 1933, Nama Tomasso Fatorri dipakai untuk mengenang mantan pemain rugby dan pelatih Tommaso Fattori, mantan teknisi ‘Aquila Rugby yang sukses mendunia di olah raga ini.

Kapasitas stadionnya, 9200 kursi. digunakan bersama dengan L’Aquila Rugby 1936 dan AS L’Aquila 1927. Karena menjadi tuan rumah pada kesempatan Olimpiade XVII, stadionnya direnovasi, kapasitasnya ditingkatkan hingga mampu menampung 20.000 orang. Beberapa pertandingan dari turnamen sepak bola pendahuluan olimpiade di lakukan di stadion ini. Namun pada kompetisi lokal tingkat rekor penonton sebesar 12.838 mengacu pada pertandingan play-off antara L’Aquila dan Gualdo dalam kompetisi Championship Interregional 1991-1992.

Pada 2016 klub pindah ke fasilitas yang didedikasikan khusus semata untuk sepak bola dan dibuat dengan merubah struktur lama stadion rugby. Yakni stadion Gran Sasso yang memiliki kapasitas total 6763 kursi. Stadion ini dibagi menjadi dua tribun tertutup, lekukan luar ruangan khusus fans curva sud dan khusus tamu VIP- dan didedikasikan untuk mengenang Italo Acconcia, atlet sepak bola paling terkenal di kota Aquilla. L’Aquila menjadikan Gran Sasso markas, artinya melakukan sesi pelatihan di tempat yang sama, namun latihan atletik tim di lakukan di gedung serba guna Italo Acconcia. Adapun, tim yunior L’Aquilla berlatih tidak di Grand Saso melainkan menggunakan di lapangan San Gregorio dan Barisciano.

Lagi-Lagi Bangkrut Laquilla Calcio, Mulai Lagi Dari Amatir

Laquilla Calcio

Setelah gempa besar pada 2008 yang membuat klub ini jatuh ke liga amatir, kini L’Aquila 1927 menjadi subjek berita di Tuttosport, media olahraga Turin yang dipimpin oleh Xavier Iacobelli, dengan oplah terbesar di Italia, nama mereka menggema di kios-kios berita hari ini. Artikel tersebut menampilkan komentar direktur L’Aquilla Il Capoluogo Roberta Galeotti. Isinya adalah pembubaran klub, untuk kemudian di rubah dalam konsorsium baru. Kembali lagi ke nol. Seluruh halaman dari halaman 39 Tuttosport, didedikasikan untuk mencari tahu kisah suka duka pasukan Red Blue Eagles: di mana Roberta Galeotti mendesak para fans, agar membantu klub dengan cara sumbangan “sekarang kami membutuhkan 50 ribu euro “. ujarnya. Uang itu akan digunakan kembali untuk membangun L’Aquilla.

Seratus orang di antara ultras dan penggemar dengan gambar L’Aquila, atau dengan tato di tangan mereka yang mencirikan klub asal Abruzzo itu terlihat dalam foto bertemu dengan pewakilan manajemen. Seratus ultras itu menjamin keberadaan klub dengan uang sumbangan mereka, artinya mereka akan menjadi pemilik klub sepakbola itu, walau mereka belum pasti akan mengelola L’Aquila Calcio 1927 langsung, karena mereka hanyalah fans yang saling menyumbang.

L’Aquila – nuovo stadio Acquasanta

Tim kota ini dalam sejarahnya hancur dua kali. Pertama oleh gempa bumi pada malam 6 April 2009, Kini terjadi lagi saat promosi ke Serie B untuk musim 2019-2020. Perusahaan inti yang memiliki saham di L’Aquila dinyatakan bangkrut pada Juli 2018, mereka meninggalkan ratusan ribu utang, termasuk gaji yang belum dibayarkan kepada para pemain, dan lebih dari satu setengah juta pajak yang belum dibayar ke pemerintah. Untuk membebaskan hutang mereka harus dipailitkan, serta para pengurus harus dipecat dan masuk daftar hitam di dunia sepak bola.

Pertandingan serie C 1, musim 2017 sendiri Dibanjiri dengan kisah skandal dan tudingan bahwa pertandingan L’Aquila Calcio telah dijual, ke bandar judi. Rumor merebak tapi klub menyangkal. Sayangnya, buruknya manajemen keuangan, membuat klub ini tersungkur dan harus mencoba memulai lagi dari dari awal. Jadi, dengan pengorbanan yang besar dan dedikasi yang luar biasa, para fans lalu mengambil alih manajemenn baru dengan cara ramai-ramai menyumbang, termasuk berupaya menutupi hutang 55 ribu euro, dan menyatukan klub kota ini di belakang panji baru dari Associazione Sportiva Dilettantistica Città di L’Aquila, menjadi L’Aquila Calcio.

Para fans ini berlangganan tiket gterusan, kini mereka juga berkorban untuk ‘mengembalikan L’AQUILA untuk terbang kembali, dalam hal ini dijelang kisah yang memilukan fans yang tidak ingin klub kesayangannya bubar untuk selamanya. Pemain L’Aquila, pun selama bertahun-tahun telah belajar untuk membayar dan mencintai pengorbanan para fans, walau terkadang ada keterbatasan dari sisi bakat, mereka mencoba melaluinya dengan semangat.

Para fans yang menyumbang dari berbagai profesi, dari pengrajin, akademisi, pedagang, dan pengusaha mereka bergabung dengan para fans lain mereka mencoba membawa likuiditas kembali ke klub yang disayangi. Orang-orang ini pun tampa pamrih, mereka tidak ingin diberitakan berlebihan, mereka bahkan kembali mengumpulkan 250 ribu euro, serta mengusahakan masuknya kontrak sponsor di situs judi online, di mana mereka juga bersedia membeli tiket terusan menonton tim sepak bolanya.
IlCapoluogo.it, situs online asal L’Aquila, mendukung tim ini, mereka mencoba terus mengabarkan bahwa klub ini tidak dimiliki pebisnis tapi para fans. Klub boleh dirusak, tetapi klub bukan manajemen, klub ada bendera.

Rossoblu Julukan dan Warna Kebesaran Dari AS L’Aquila 1927

Rossoblu Julukan dan Warna Kebesaran Dari AS L’Aquila 1927 – L’Associazione Sportiva Dilettantistica L’Aquila 1927 memiliki ciri warna merah dan biru pekat, yang digambarkan pada bendera serta jersey mereka. Warna merah dan biru pekat sejatinya warna yang langka. Lebih langka lagi jika bandingannya di kancah sepak bola domestik. Hanya ada tiga klub sepak bola di Italia yang gunakan warna itu, pertama Bologna FC, yang lebih mentereng, dan kedua FC Catania asal Sisilia, dan ketiga AS L’Aquilla.

Bologna satu kasus karena mereka salah satu kota besar dan pernah memenangkan Serie A, namun warna yang dipakai oleh AS L’Aquilla merupakan warna yang terkait erat oleh warna Bologna, dan digunakan sejak lahirnya, dengan kata lain belum berubah sejak berdirinya klub ini pada 1927. Warna ini memiliki sejarah unik, dan diyakini sebagai tanda penghormatan kepada Profesor Rusconi, seorang ilmuwan radiologis asal Bologna yang menjadi pendukung utama L’Aquilla.

Walau demikian, warna lain sempat dijadikan pilihan. Misalkan warna hitam, yang pada akhrnya hanya dipakai oleh penjaga gawang. Beberapa anggota pimpinan ingin mencoba warna hitam dan hijau, keduanya identik dengan kiper oleh karena itu ditolak. Warna hitam hijau sendiri kemudian diadopsi oleh tim rugby lokal,

Jersey pertama tim menggambarkan dua warna garis-garis merah dan biru membelah tengah seimbang, warna jersey ini dipakai sejak 1936. Tahun demi tahun berganti, jumlah strip ditambah, ukuran strip juga diubah beberapa kali dalam perjalanan waktu. Jersey tradisional yang paling lama dipakai adalah yang memakai 9 strip (biasanya 5 biru dan 4 merah) yang saling menyempit. Tetapi pada 2000-2001 ada perubahan mencolok di mana strip yang digunakan hanya tiga strip (2 warna merah, 1 warna biru di tengah, warna birunya yang jauh lebih terang dari standar sebelumnya). Celana pendek dan kaus kaki hampir selalu berwarna biru atau putih, jarang menggunakan yang merah.

Merah-biru, di luar rumor terkait Bologna seperti yang disebutkan di atas, telah muncul di ‘Aquila sebelum pembentukan’ AS Aquila sendiri: pada pertengahan dua puluhan berdiri klub amatir FC L’Aquila dengan warna jersey kemeja kotak-kotak merah-biru. Kainnya diperoleh dari kota Pescara, warna kebanggaan kota Pescara adalah biru langit.

Namun, warna kombinasi kotak meah biru itu membawa tawa para penonton di lapangan Collemaggio, sehingga manajemen klub amatir itu menggantinya dengan full biru, dengan celana pendek hitam. Kemudian berdiri pula SS Aquila yang mengadopsi warna putih dan biru seperti halnya FC Pescara. Dari sejarahnya ini malah muncul tanda tanya, Apakah yang di Aquilla selalu meniru dan bergantung klub yang lebih besar? Jawabannya tidak memuaskan, sehingga asal usul warna L’Aquilla kini dilupakan.

Seragam tandang L’Aquilla adalah warna putih dengan sedikit varian merah-biru yang terbatas pada garis trim di sisi atau pita yang melintang di tutupan jerse. Trim diatur secara vertikal, horizontal atau diagonal. Namun pernah pada akhir tahun sembilan puluhan, tim ini menggunakan jersey putih dengan lambang klub di tengahnya, dan beberapa kotak merah dan biru kotak-kotak kecil. Sementara warna celana pendek dan kaus kaki nya berwarna putih atau atau kombinasi dengan biru.

Namun, ada pengecualian untuk penggunaan warna kuning dalam satu kasus (pada tahun 2000-2001) mengingat jersey biru pekat itu terlalu meniru Bologna. Adapun pada tahun 2012-2013 dibuat jersey ketiga berwarna hitam-hijau yang kadang diledek mirip SS Sassuolo.

Karena Gempa Tim Bola Laquilla Calcio Memulai Petualangan Dari Liga Amatir

Karena Gempa Tim Bola Laquilla Calcio Memulai Petualangan Dari Liga Amatir

karena Gempa Tim Bola Laquilla Calcio Memulai Petualangan Dari Liga Amatir – Sebelas tahun telah berlalu sejak 6 April 2009, ketika kota L’Aquila di wilayah Abruzzo semuanya seolah berhenti. Sepuluh tahun yang lalu gempa bumi mengguncang wilayah Abbruzo, banyak tubuh tanpa nyawa bergelimpangan, banyak jiwa yang terkoyak dan terenggut, banyak di antara mereka menggali di antara puing-puing bersama-sama.
Yang menyatukan mereka adalah tim sepak bola L’Aquila yang merupakan simbol kota, agar bangkit dari peristiwa bencana silih berganti rutin, mendatangi daerah tersebut. Abruzzo memang regio yang selalu mendapat ancaman gempa, selalu dihantui masa lalu yang akan muncul lagi di masa depan, dan puing-puing adalah pemandangan biasa di regio Abruzzo. bagaimanapun warga L’Aquila tidak mau menyerah pada tragedi situasi, bata demi bata, harus dibangun kembali dan mereka berhasil pulih.

Gempa bumi telah menghancurkan kehidupan semua orang, bahkan kehidupan tim sepak bola kebanggan kota, yang sama saja berbagi nasib dengan kota nya antara promosi dan kegagalan atau degradasi.. Laquilla Calcio dalam beberapa tahun terakhir telah ikut menurun performanya hingga menghilang, karena beberapa pengisinya putera daerah yang ikut terdampak gempa. Lalu ceritanya juga tidak berakhir di situ. Klub meskipun tenggelam tetap menyimpan semangat tarung, dan ketekunan khas Abruzz, Aquila Calcio, terpaksa, harus pergi dari klasemen karena tidak memenuhi syarat finansial sebagai akibat gempa. Mereka harus mulai Dari awal. Atau lebih tepatnya sesuai peraturan, dari Kategori liga Pertama. Mereka mendirikan perusahaan baru dari perusahaan lam yang rata dengan tanah, yang tidak lagi berhubungan dengan manajemen sebelumnya, lahir kembali menjelang kompetisi musim panas 2018, tanpa gegap gempita atau hype media. Nama lengkapnya berubah menjadi Associazione Sportiva Dilettantistica Città di L’Aquila, warna banner kebanggaannya sama seperti biasanya: merah dan biru.

L’Aquila dimulai dari bawah, dari grup A Prima Kategoria dalam klasemen yang sangat berbeda dari apa yang biasa para fans di kota L’Aquilla saksikan pada tim mereka. Tapi itu tidak masalah. Tim Abruzzo ini tetap menghargai hukuman karena bangkrut, dan berkomitmen untuk menjalani hukuman itu tanpa banyak alasan. Seperti halnya Palermo, dan Fiorentina yang eprnah memulai dari kategori yang sama. Tim secara keseluruhan ingin berjuang agar bisa kembali setidaknya ke puncak pencapaian mereka Serie B. Melalui tekad dan kualitas pemain yang masih bersedia bermain pada tim, mereka siap memenangkan pertandingan. Pada akhirnya tim bisa bermain dengan sangat baik, kadang-kadang bermain berlebihan, dengan kemenangan yang sebagian besar sangat menonjol, terutama dalam klasemen Serie D yang terlalu mudah untuk mereka.

Pada era terbarunya di 2018-2019, mereka membuat rekor yang sudah diperkirakan: 163 gol dicetak dan hanya kebobolan 9 gol dalam 34 pertandingan. Setelah kemenangan 9-0 dalam derby melawan San Francesco, L’Aquila memenangkan kejuaraan Prima Kategoria dan melompat ke liga di atasnya. Lalu bermain Lega Pro Seconda Divisione, yang dulunya bernama Serie C1. Setiap tim yang degradasi masih menyisakan nama ternama., sementara di Aquilla ada nama bek sayap Damiano Zanon yang pernah bermain dengan Pescara, Frosinone, Benevento dan Perugia. Ada juga Nicola di Francia dan kapten Aquilla selama 3 tahun, atau Lorenzo Cattafesta, kiper nomor 1 dari L’Aquila baru. Semua yang ada di tim yang kehilangan segalanya dan mencapai titik terendah, kini sedang bersiap untuk kembali dengan kekuatan dan keyakinan lebih dari sebelumnya.

Pages:
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!